Choen Coffee di Pasar Buku Palasari, Meracik Kopi Sekaligus Merajut Persaudaraan

 

Choen Coffee & Tea Pasar Buku Palasari, Kota Bandung

Onetunejabar.com Bandung - Hiruk pikuk Pasar Buku Palasari, Kota Bandung, Kamis (25/6/2026) sore, dipenuhi lalu lalang pengunjung, pengendara motor, dan kendaraan roda empat.

Tua, muda, hingga remaja hilir mudik di kawasan yang dikenal sebagai sentra buku tersebut. Sebagian datang untuk membeli buku, sebagian lainnya menyalurkan hobi bersepeda, dan tak sedikit yang memilih bersantai sambil menikmati kopi di Choen Coffee & Tea.

Kedai kopi yang berada di sisi kanan pintu masuk area parkir utama Pasar Buku Palasari itu buka mulai pukul 10.00 hingga 01.00 dini hari. Di tempat inilah Bambang Eko Prasetyo merintis sekaligus mengembangkan usahanya, yang berawal dari lapak kaki lima hingga kini berkembang menjadi usaha kopi yang melayani berbagai kebutuhan pelanggan.

Di balik aroma kopi yang menguar dari kedainya, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai lebih dari satu dekade lalu. Bambang Eko menceritakan, usaha yang kini dijalaninya bermula pada 2015 di Pamulang, Tangerang. Saat itu, usahanya masih berupa lapak kaki lima.

Bambang Eko Prasetyo

“Choen (dibaca Cun) Kopi itu saya bikin pada tahun 2015 di Pamulang. Awalnya kaki lima,” ujarnya.

Nama Choen Kopi sendiri memiliki cerita tersendiri. Menurut Eko, nama tersebut berasal dari nama sang istri yang akrab dipanggil “Choen”. Nama itu kemudian dipilih karena mudah diterima semua kalangan.

“Kalau kata orang Cina, Choen itu artinya makmur,” kata Eko.

Usaha yang dirintisnya di Pamulang kemudian berpindah ke Bandung saat pandemi Covid-19 melanda. Keputusan tersebut diambil karena berbagai pertimbangan hingga akhirnya ia menetap dan mengembangkan usahanya di Kota Kembang.

Menurut Eko, perkembangan usahanya justru semakin pesat setelah berada di Bandung. Selain menjual kopi seduh, ia mulai merambah berbagai lini usaha seperti penjualan drip coffee, produk pascapanen kopi, hingga jasa roasting.

“Di Bandung sudah mulai lebih maju. Saya mulai jual drip coffee, mulai jual produk pascapanen, mulai jual jasa roastery. Kopinya juga mulai dari berbagai negara. Jadi sekarang lebih maju daripada dulu waktu di Pamulang,” katanya.

Untuk jenis kopi, Eko menyediakan Arabika dan Robusta. Namun, menurutnya, masyarakat Bandung lebih banyak menggemari kopi-kopi dengan karakter tertentu yang sesuai dengan selera penikmat kopi di daerah tersebut.

Salah satu produk yang paling banyak diminati adalah kopi Arabika Gunung Puntang yang dijual dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu per kilogram. Menurut Eko, kopi tersebut merupakan salah satu kopi terbaik yang dimiliki Jawa Barat. Bahkan, ia pernah menjual kopi tersebut dengan harga mencapai Rp1,8 juta per kilogram. Konsumen juga dapat membeli kopi dalam jumlah eceran sesuai kebutuhan.

Selain Gunung Puntang, sejumlah kopi asal Jawa Barat lainnya yang banyak dicari pelanggan antara lain kopi Manglayang, Ciwidey, Gunung Halu, Garut, dan berbagai daerah penghasil kopi lainnya.

Ketertarikan Eko terhadap dunia kopi bukanlah sesuatu yang instan. Ia mengaku sudah minum kopi sejak kecil, bahkan sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.

“Saya minum kopi dari kecil, dari kelas I SD. Tapi waktu itu kopi susu campur gula. Kalau saya tidak minum kopi, tidak boleh ambil uang jajan. Jadi mau tidak mau saya minum kopi dulu baru ambil uang jajan,” kenangnya.

Meski sudah akrab dengan kopi sejak kecil, titik balik ketertarikannya untuk mendalami kopi terjadi pada 2005. Saat berada di sebuah coffee shop, ia memesan kopi hitam dan merasakan pengalaman yang berbeda dari kopi saset yang biasa diminumnya.

“Saya minta gula malah diketawain. Dari situ saya penasaran. Kenapa kopi yang satu pahitnya seperti ini, yang satu lagi pahitnya seperti itu,” ujarnya.

Rasa penasaran itu kemudian membawanya mempelajari dunia kopi secara otodidak. Ia belajar dari para praktisi kopi, membaca buku, dan mencocokkan teori dengan praktik yang dijalani sehari-hari.

“Belajarnya otodidak. Dari orang-orang yang memang jago di situ, terus dari buku. Dicocokkan dengan praktik, ternyata cocok semua,” kata Eko.

Menurutnya, memahami kopi tidak hanya soal teori, tetapi juga pengalaman. Mulai dari jenis biji kopi, tingkat kehalusan gilingan, penggunaan gula, hingga suhu penyeduhan memiliki pengaruh terhadap cita rasa yang dihasilkan.

“Nanti rasanya beda kalau gilingan kasar, beda lagi kalau gilingan halus. Humusnya sekian. Itu memang ada ilmunya. Satu ada ilmunya, yang kedua pengalaman,” tuturnya.

Memasuki tahun kelima beroperasi di Pasar Buku Palasari, Eko mengaku antusiasme masyarakat Bandung terhadap kopi cukup tinggi. Banyak pelanggan datang dari berbagai kalangan, termasuk para desainer dan pelaku industri kreatif yang memanfaatkan jasa roasting miliknya.

Untuk kebutuhan roasting, dalam sehari ia mampu mengolah sekitar 20 hingga 30 kilogram kopi, bahkan bisa lebih jika ditambah permintaan dari layanan lainnya.

Selain menjual kopi seduh, bisnis yang dijalankannya kini meliputi penjualan bubuk kopi, drip coffee, kopi kemasan ulang, layanan rebranding produk kopi, hingga jasa roasting. Ke depan, ia juga berencana kembali memproduksi kopi saset yang pernah dipasarkannya.

“Saya jual drip coffee, kopi kemasan ulang, mau rebrand juga boleh. Sekarang saya mau running lagi kopi 2 in 1. Kopi saset dulu itu saya jual, sekarang mau saya jalankan lagi,” katanya.

Tidak hanya kopi, Eko juga mulai menaruh perhatian pada dunia teh. Meski mengakui ilmunya tentang teh belum sedalam kopi, ia perlahan mulai mempelajari karakter minuman tersebut.

Bagi Eko, kopi bukan sekadar minuman atau komoditas bisnis. Ia meyakini kopi memiliki filosofi yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang.

“One brew, one coffee bro. Jadi satu seduhan kita bersaudara,” ujarnya.

Menurutnya, kedai kopi merupakan salah satu ruang sosial yang unik. Perbedaan pendapat dan diskusi yang tegang bisa saja terjadi, namun jarang berujung konflik.

“Orang boleh berbeda pendapat, boleh tegang, tapi tidak ada yang ribut. Hanya coffee shop saja. Tuhan menciptakan kopi agar kita semua bersaudara,” katanya.

Ia juga optimistis kopi Indonesia tidak akan kalah bersaing dengan kopi dari negara lain karena didukung kekayaan alam yang melimpah. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi para pelaku industri kopi itu sendiri.

“Kalau kopi Indonesia sudah pasti tidak akan kalah saing. Kekayaan alamnya luar biasa. Cuma kadang-kadang kita sendiri tidak konsisten,” ujarnya.

Selama lima tahun menjalankan usaha di Pasar Buku Palasari, Eko mengaku memperoleh lebih dari sekadar keuntungan bisnis. Ia berhasil membangun komunitas yang tumbuh secara alami dari para pelanggan yang datang ke kedainya.

“Awalnya saya pikir hanya jualan kopi selesai. Tapi ternyata bisa bikin komunitas baru. Komunitas anak sekolah, komunitas bapak-bapak, sampai komunitas lainnya. Jadinya terbentuk komunitas sendiri padahal ini pasar,” katanya.

Ke depan, selain mengembangkan produk kopi saset 2 in 1, Eko juga berencana menghadirkan kopi saset 3 in 1 sebagai langkah pengembangan usahanya.

“Rencana ke depan saya mau membuat kopi saset saya sendiri, termasuk kopi saset 3 in 1,” pungkasnya.(Oc)


Post a Comment

0 Comments