AI Medical Assessment Diperkenalkan UNJANI, Dorong Transformasi Pelayanan Kesehatan

onetunejabar.comCimahi,  Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru bagi rumah sakit untuk mengembangkan pelayanan kesehatan yang semakin inovatif. Salah satunya melalui Medical Assessment AI, teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses assessment awal risiko penyakit secara lebih sistematis dengan dukungan pengolahan data dan citra medis.

Peluang tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) bertajuk “Peningkatan Keunggulan Bersaing melalui Pemanfaatan AI Medical Assessment pada Kanker Otak”, yang dilaksanakan di Aula Sambiloto, Rumah Sakit Tingkat II Dustira, Cimahi, Rabu (5/8/2026).

Berbeda dengan edukasi teknologi yang hanya berfokus pada pengenalan konsep, kegiatan ini menggabungkan perspektif teknologi informasi, medis, dan manajemen rumah sakit. Sebanyak 44 peserta dari unsur tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit mengikuti pemaparan, demonstrasi, serta diskusi mengenai peluang pemanfaatan AI dalam mendukung inovasi pelayanan.

Teknologi AI Diperkenalkan melalui Simulasi

Salah satu bagian utama kegiatan adalah pengenalan dan simulasi Medical Assessment AI. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai inovasi yang memanfaatkan AI dan pengolahan citra (image processing) untuk membantu menganalisis citra medis secara lebih sistematis.

Ari Purno Wahyu Wibowo, S.Kom., M.Kom., sebagai salah satu narasumber, memberikan perspektif teknologi dalam kegiatan tersebut. Peserta memperoleh gambaran mengenai bagaimana teknologi berbasis AI dikembangkan dan bagaimana sistem pengolahan citra dapat digunakan dalam simulasi medical assessment.

Narasumber memperagakan simulasi Medical Assessment AI berbasis pengolahan citra dalam kegiatan Pengmas UNJANI di Rumkit Tk. II Dustira, Cimahi.

 Pemanfaatan teknologi tersebut dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai sarana edukasi dan simulasi. Medical Assessment AI diperkenalkan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai potensi AI sebagai teknologi pendukung dalam pelayanan kesehatan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan maupun keputusan klinis tenaga medis.

Mempertemukan Perspektif Teknologi dan Medis

Pembahasan teknologi kemudian diperkuat melalui perspektif medis yang disampaikan oleh Dr. dr. Arief Kurniawan, Sp.An., KIC., MMRS., FISQua., FIHFAA. Kehadiran perspektif medis memberikan pemahaman bahwa perkembangan AI dalam pelayanan kesehatan perlu berjalan seiring dengan pertimbangan profesional, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien.

Kolaborasi antara aspek teknologi dan medis menjadi penting karena inovasi kesehatan tidak hanya berbicara tentang kemampuan sebuah aplikasi dalam mengolah data. Teknologi pada akhirnya harus ditempatkan sesuai kebutuhan pelayanan dan digunakan secara bertanggung jawab dalam mendukung tenaga kesehatan.

Dr. dr. Arief Kurniawan, Sp.An., KIC., MMRS., FISQua., FIHFAA. memberikan perspektif medis dalam pembahasan pemanfaatan AI pada pelayanan kesehatan.

  Inovasi Teknologi Juga Menjadi Nilai Tambah Rumah Sakit

Pembahasan selanjutnya menjadi lebih luas pada aspek pengelolaan rumah sakit. Inovasi teknologi tidak hanya berpotensi mendukung proses pelayanan, tetapi juga dapat menjadi salah satu nilai tambah bagi rumah sakit dalam menghadapi perkembangan industri pelayanan kesehatan.

Kemampuan mengembangkan inovasi menjadi semakin relevan ketika masyarakat juga menghadapi semakin banyak pilihan fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit yang adaptif terhadap perkembangan teknologi memiliki peluang untuk memperkuat citra sebagai institusi yang modern dan inovatif sekaligus mengembangkan diferensiasi layanan.

Inilah yang menjadi benang merah antara pemanfaatan Medical Assessment AI dengan tema keunggulan bersaing. Teknologi tidak dipandang semata-mata sebagai perangkat baru, tetapi sebagai bagian dari inovasi layanan yang perlu dikelola agar memberikan nilai bagi organisasi dan pelayanan.

Peserta Diajak Melihat Peluang sekaligus Tantangan AI

Suasana kegiatan berkembang menjadi diskusi ketika peserta diberikan kesempatan untuk menanggapi pemanfaatan AI dalam lingkungan rumah sakit. Sesi yang dimoderatori oleh dr. Meifiyane Angnawaty Fadlillah, MMRS., MH. membuka ruang interaksi antara peserta dan narasumber mengenai penggunaan teknologi, kebutuhan tenaga kesehatan, serta kesiapan rumah sakit dalam mengembangkan inovasi digital.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur yang berkaitan dengan pelayanan dan pengembangan sistem rumah sakit, termasuk dokter, perawat, tenaga rekam medis, teknologi informasi, dan manajemen. Komposisi tersebut membuat pembahasan AI tidak hanya dilihat dari satu perspektif.

Peserta berdiskusi bersama narasumber mengenai peluang pemanfaatan AI dan pengembangan inovasi pelayanan kesehatan.

Dari Ruang Edukasi Menuju Kolaborasi Inovasi

Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut menjadi bagian dari kolaborasi UNJANI dengan Rumkit Tk. II Dustira dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan inovasi pelayanan kesehatan.

Program ini juga mempertemukan tiga rumpun keilmuan, yakni Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, dan Teknik Informatika. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi relevan karena pengembangan AI di bidang kesehatan membutuhkan keterhubungan antara pengembang teknologi, tenaga medis sebagai pihak yang memahami konteks pelayanan, serta manajemen yang mengelola implementasi inovasi di tingkat organisasi.

Melalui edukasi dan simulasi tersebut, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peluang pemanfaatan Medical Assessment AI. Tidak hanya sebagai perkembangan teknologi, tetapi sebagai bagian dari inovasi yang perlu dikembangkan dengan memperhatikan aspek pelayanan, profesionalisme, kesiapan SDM, dan tata kelola rumah sakit.

Bagi Rumkit Tk. II Dustira, penguatan inovasi berbasis teknologi diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat kesiapan rumah sakit menghadapi transformasi layanan kesehatan. Sementara bagi UNJANI, kegiatan tersebut menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus ruang kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan rumah sakit dalam mendorong pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pelayanan.***

Post a Comment

0 Comments