Onetunejabar.com - Kabupaten Garut – Memasuki tahun ajaran baru
2026/2027, suasana pembelajaran di SMAN 1 Garut mulai berbeda. Sekolah yang
berada di Jalan Merdeka No 91, Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, itu menjadi
salah satu dari 41 SMA dan SMK negeri yang dipercaya Pemerintah Provinsi Jawa
Barat menjalankan program Sekolah Manusia Unggul (Maung).
Program sekolah unggulan yang digagas Pemprov Jawa Barat tersebut
diterapkan di 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri. Di SMAN 1 Garut, implementasi
Sekolah Maung mulai diterapkan kepada seluruh siswa kelas X.
Kepala SMAN 1 Garut, Dra. Sri Mulyani, M.Pd., mengatakan pelaksanaan
pembelajaran Sekolah Maung pada tahun ajaran baru telah berjalan sesuai
petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan.
“Alhamdulillah, sudah berjalan sebagaimana mestinya, sesuai dengan
juknisnya, bahwa struktur kurikulum untuk Sekolah Maung itu sudah dilaksanakan
sesuai dengan petunjuk teknisnya,” kata Sri Mulyani kepada majalahsora.com,
perwakilan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, Senin (3/8/2026).
Sebelum program tersebut diterapkan, pihak sekolah terlebih dahulu
mengikuti bimbingan teknis (bimtek) Sekolah Maung tingkat Provinsi Jawa Barat.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah mendapatkan arahan mengenai pengelolaan
hingga pelaksanaan pembelajarannya.
“Kami sebelumnya kan sudah bimtek dengan Sekolah-Sekolah Maung di
Provinsi Jawa Barat. Waktu itu, di Radjiman (Kantor Dinas Pendidikan Provinsi
Jawa Barat). Sudah diberikan petunjuk bagaimana seharusnya Sekolah Maung
dikelola, terutama untuk menjalankan pembelajaran Sekolah Maung,” katanya.
Tiga Layer Kurikulum
Berbeda dengan kelas XI dan XII yang tetap menjalankan pembelajaran
reguler, program Sekolah Maung di SMAN 1 Garut diterapkan kepada siswa kelas X
dengan struktur pembelajaran yang terdiri atas tiga layer kurikulum.
Layer pertama mengintegrasikan kurikulum internasional melalui
Cambridge. Layer kedua menggunakan Kurikulum Nasional dengan pendekatan
pembelajaran mendalam. Sementara layer ketiga berupa kurikulum spesialisasi
yang turut mengintegrasikan nilai-nilai Pancawaluya (cageur, bageur, bener
pinter tur singer).
Meski mengadopsi kurikulum Cambridge, Sri menjelaskan mata pelajaran
yang diberikan pada dasarnya tetap mengacu pada Kurikulum Nasional. Cambridge
digunakan untuk memperkaya substansi dan materi pembelajaran yang dinilai
sesuai dengan kebutuhan Sekolah Maung.
“Kalau mata pelajaran sama saja, kami mengambil seperti Kurikulum
Nasional, tetapi Kurikulum Cambridge itu hanya pengembangannya. Jadi ada
substansi, materi-materi khusus yang ditambah, yang sesuai dengan Kurikulum
Maung,” tuturnya.
Program Tambahan
Penerapan Sekolah Maung turut berpengaruh terhadap durasi kegiatan
belajar siswa. Pembelajaran dimulai pukul 06.30 WIB seperti siswa reguler,
tetapi berlangsung hingga pukul 15.45 WIB.
Tak berhenti pada hari sekolah reguler, siswa kelas X juga mengikuti
Saturday Programming setiap Sabtu mulai pukul 07.30 hingga 11.30 WIB.
Program tersebut menjadi ruang pengembangan dan pengayaan materi
Sekolah Maung, termasuk persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), pengembangan
potensi siswa, serta pembinaan menuju Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Dalam komposisi pembelajarannya, sekolah mengintegrasikan kurikulum
internasional Cambridge, Kurikulum Nasional, serta program pengembangan yang
antara lain diarahkan untuk TKA dan OSN.
Saturday Programming wajib diikuti seluruh siswa kelas X yang
menjalankan program Sekolah Maung, sedangkan siswa kelas XI dan XII tidak
mengikuti program tersebut.
Guru Kelas Maung Dipilih melalui Asesmen Sekolah
Penerapan program Sekolah Maung menuntut kesiapan guru. Karena itu,
tidak semua guru secara otomatis ditugaskan mengajar di kelas Maung.
SMAN 1 Garut melakukan asesmen internal untuk memilih guru yang
dinilai memiliki kompetensi, integritas, dan loyalitas dalam menjalankan
program tersebut.
Selain melalui asesmen, para guru mata pelajaran telah mengikuti
bimtek atau workshop untuk mempersiapkan implementasi kurikulum Sekolah Maung.
Dalam kegiatan tersebut, guru mendapatkan bimbingan dari Profesor
Isma, Guru Besar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang turut
terlibat sebagai pengembang Kurikulum Sekolah Maung. Profesor Isma juga
merupakan alumni SMAN 1 Garut.
“Jadi Guru mata pelajaran pada waktu itu mengikuti bimtek atau
workshop, di mana dibimbing oleh Profesor Isma dari UPI. Pengembang Kurikulum
Sekolah Maung juga, diundang oleh kami. Kebetulan beliau itu adalah alumni
sekolah kami,” kata Sri.
384 Siswa dalam 12 Kelas
Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 384 siswa kelas X SMAN 1 Garut
mengikuti pembelajaran Sekolah Maung. Mereka terbagi ke dalam 12 rombongan
belajar (rombel), masing-masing berisi maksimal 32 siswa.
Sri menegaskan jumlah tersebut tidak dapat ditambah karena sekolah
harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ia pun tidak
menampik adanya pihak-pihak yang berupaya agar siswa tertentu dapat diterima.
“Yang memaksakan mah ada saja. Tapi kami memegang teguh PERGUB,”
tegasnya.
Menurut Sri, sistem dan aturan teknis penerimaan siswa telah
ditentukan secara jelas melalui juknis dan Keputusan Gubernur (KEPGUB),
termasuk batas maksimal 32 siswa dalam setiap kelas.
“Sistemnya sudah jelas untuk teknis, kemudian juga aturannya tertuang
dalam juknis sesuai dengan KEPGUB, harus 32. Meskipun dengan berbagai tekanan,
tapi mereka (oknum) harus paham,” tegasnya.
Targetkan Siswa Unggul Akademik, Nonakademik, dan Karakter
Dengan dimulainya Sekolah Maung, Sri berharap tujuan program untuk
mewadahi dan mengembangkan siswa unggul serta berprestasi dapat benar-benar
terwujud.
“Harapannya tentu sesuai dengan tujuan Pak KDM (Kang Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar) membangun Sekolah Maung, ya. Tujuannya adalah untuk mewadahi
siswa-siswa yang unggul. Siswa-siswa yang berprestasi,” katanya.
Terlebih, menurut Sri, input siswa SMAN 1 Garut berasal dari kalangan
siswa berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
“Tentunya kami Sekolah Maung bertujuan sama, mencetak siswa-siswa yang
unggul bukan hanya di bidang akademik, tapi di non-akademik. Artinya siswa juga
harus unggul di karakter, selain akademik,” jelasnya.
Sri pun optimistis target tersebut dapat dicapai. Sebelum ditunjuk
sebagai Sekolah Maung, kata dia, SMAN 1 Garut juga telah banyak melahirkan
siswa berprestasi.
“Ya mudah-mudahan berhasil. Insya Allah kalau melihat dari input
siswanya, memang kami pede (percaya diri), percaya bahwa siswa yang di SMA 1
itu kan sebelum Maung juga, alhamdulillah, kami banyak mencetak prestasi.
Apalagi ini siswanya siswa yang prestasi semua,” ujarnya.
Sosialisasi kepada Orang Tua
Untuk menyamakan pemahaman mengenai pelaksanaan Sekolah Maung, pihak
sekolah juga berencana melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa.
Namun, sekolah memilih berhati-hati untuk menggelar pertemuan secara
langsung. Sebelumnya, sosialisasi terkait pelaksanaan Masa Pengenalan
Lingkungan Sekolah (MPLS) juga dilakukan melalui Zoom.
Menurutnya, terdapat kekhawatiran pertemuan pihak sekolah dengan orang
tua secara tatap muka langsung, karena dapat menimbulkan persepsi tertentu.
Meskipun tujuan sekolah semata-mata untuk menyampaikan program pendidikan.
Kehati-hatian tersebut, lanjut Sri, diperlukan agar kegiatan sekolah
tidak dimanfaatkan pihak tertentu atau dipersepsikan berbeda dari tujuan
sebenarnya.
"Karena itu, sosialisasi program sekolah, khususnya Sekolah
Maung, direncanakan berlangsung secara daring (dalam jaringan) melalui Zoom
dalam satu hingga dua minggu ke depan," terangnya.
Berupaya Maksimal Dorong Siswa Lolos 100 % PTN
Selain membangun prestasi akademik, nonakademik, dan karakter, SMAN 1
Garut juga membawa target agar para siswanya dapat melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi negeri (PTN) 100 %.
Sekolah, kata Sri, akan berupaya semaksimal mungkin mempersiapkan
siswa. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada proses dan usaha
masing-masing anak.
“Kami berikhtiar. Nanti akhirnya Allah yang menentukan. Tergantung
proses anaknya juga. Kami kan berupaya semaksimal mungkin,” katanya.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Saturday Programming.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat kemampuan akademik, tetapi
juga mengembangkan potensi siswa berdasarkan minat masing-masing.
“Makanya ada program Saturday, salah satunya untuk mengembangkan
kemampuan siswa, sesuai dengan minatnya masing-masing,” ujarnya.
Saat ditanya apakah ada siswa yang mengundurkam diri, dari keterangan
Sri, hingga awal pelaksanaan pembelajaran tahun ajaran 2026/2027, ia memastikan
tidak ada siswa kelas X yang mengundurkan diri dari program Sekolah Maung di
SMAN 1 Garut.
Dengan integrasi Kurikulum Nasional, Cambridge, program spesialisasi,
serta pengayaan melalui Saturday Programming, SMAN 1 Garut kini memulai langkah
baru sebagai salah satu Sekolah Maung di Jawa Barat, dengan target melahirkan
siswa yang unggul secara akademik, nonakademik, sekaligus memiliki karakter
kuat.

.jpeg)



.jpeg)
0 Comments